Angkat Batik Kasumedangan, Nafira Batik Jajal Pangsa Pasar Dunia
JURNAL SUMA.COM., SUMEDANG – Nafira Batik Kasumedangan yang berlokasi di Dusun Neglasari RT 05 RW 04, Desa Sukamaju Kecamatan Rancakalong Kabupaten Sumedang Jawa Barat, terus menunjukan eksistensinya.
Salah satu produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) kreatif yang berdiri sejak tahun 2010 dengan mengangkat ciri khas Sumedang, mulai dikenal di sejumlah daerah di tanah air.
Bahkan, pangsa pasarnya sudah sampai ke mancanegara, melalui kegiatan pameran UMKM maupun relasi, seperti ke Malaysia, Singapur, Korea, Dubai, hingga sampai ke Eropa.
“Perkembangannya selain di Sumedang tentunya sudah se-Indonesia, karena kan sering dibawa ke pameran, karena relasi atau online. Terus juga sekarang medsos yang paling kuat ya,” kata Owner Nafira Batik Kasumedangan, Hj. Nafisa Sariningsih saat ditemui di galerinya, Jumat (6/10/2023).

Hingga saat ini, Nafira Batik Kasumedangan telah memiliki 60 motif batik, yang delapan diantaranya telah dipatenkan melalui Peraturan Bupati (Perbup). Delapan motif Kasumedangan itu diantaranya Lingga, Mahkota Binokasih, Kembang Wijayakusumah, Hanjuang, Manuk Julang, Bunga teratai, dan lain-lain
“Motifnya yang sudah ada di Perbup 8 tapi, kalau misalnya kreasi kita banyak. Karena mungkin semua yang bagus dipakai motif termasuk motif tahu, terus dulu banyak tambahannya kalau saya ini sudah produksi yang udah dibuat cap itu hampir 60,” ucapnya.
Nafisa menuturkan, melalui penjualan offline dan online batik yang dibuat melalui proses batik tulis, cap, maupun kombinasi batik tulis dan cap dengan tenaga kerja warga sekitar, telah memiliki omset Rp 120.000.000 perbulan.

“Omset sebenarnya tergantung banyak pesanan tapi ya Alhamdulillah mencukupi semuanya, karena kami karyawannya banyak. Kalau lagi ramai sampai Rp 120 Juta. Tapi kalau dulu dengan sekarang mungkin lebih ramai dulu, sekarang saya kadang kalau di satu toko itu paling mencapai Rp 80 Juta,” tuturnya.
Sejauh ini batik yang banyak diminati oleh konsumen bermotif Khas Sumedang, seperti Mahkota Binokasih, Lingga, Cadas Pangeran. Dalam sehari, produksi batik di tempatnya bisa menghasilkan 20 hingga 40 potong tergantung dari tingkat kerumitan motifnya.
“Untuk oleh-oleh itu kebanyakan yang diminati bermotif kelihatan khas Sumedangnya. Kalau kebanyakan motifnya dicampur bisa memakan waktu lama. Tapi kalau misalnya hanya batiknya satu warna menagndalkan cap saja itu bisa menghasilkan 40 potong,” ujarnya.
Selain produksi, Nafira Batik Kasumedangan membuka juga pelatihan bagi masyarakat umum lainnya. Seperti dilakukan Persatuan Srikandi Kreatif Indonesia (Persikindo) Kabupaten Sumedang yang mengikuti pelatihan membatik.

Meski baru pertama kali memegang canting, prosesnya dinilai tidak terlalu rumit namun butuh ketekunan.
“Kerumitannya itu harus tekun, nanti kalau nggak rapih warnanya akan meleber ke mana -mana. Saya baru pertama megang canting, terus tahu caranya membatik bagaimana Alhamdulillah menyenangkan,” kata Peserta Pelatihan Batik, Ratih Kemala Dewi.
Dengan mengutamakan produksi batik tulis, diharapkan dapat terus mengembangkan ciri khas batik Kasumedangan yang tidak kalah dengan daerah lain. Karena, perkembangan batik Kasumedangan sejauh ini cukup bagus dan banyak dikenal orang.
“Harapan saya semoga Srikandi di Sumedang, masyarakat Sumedang atau lebih luasnya Jawa Barat, bisa mengenal teknik batik bisa tahu bagaimana cara rumitnya membatik. Sehingga kalau harga batik tinggi tidak menjadi bahan pertanyaan. Kenapa batik mahal?, karena ini prosesnya memang membutuhkan waktu yang cukup lama dan penuh ketekunan,” ucapnya.







