Sumedang Awali Kirab Mahkota Binokasih, Hidupkan Spirit Tatar Sunda
JURNAL SUMA.COM., SUMEDANG – Kirab Mahkota Binokasih dipastikan menjadi agenda unggulan dalam rangkaian peringatan Milangkala Tatar Sunda yang akan berlangsung pada 8-9 Mei 2026 di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Kegiatan budaya ini akan memulai perjalanannya dari Sumedang, kemudian berlanjut ke Ciamis, Bogor, hingga Bandung.
Perhelatan Milangkala Tatar Sunda tahun ini diharapkan menjadi momentum penting dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Sunda sebagai dasar pembangunan di Jawa Barat. Selain sebagai perayaan budaya, kegiatan ini juga menjadi simbol sinergi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam melestarikan warisan leluhur.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir menyampaikan apresiasinya kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas dukungan dalam penyelenggaraan kirab tersebut. Ia menilai momen ini semakin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Tatar Sunda dan Hari Jadi Sumedang ke-448.
“Milangkala Tatar Sunda akan dimulai di Kabupaten Sumedang pada 8-9 Mei. Ini merupakan event yang mensinergikan antara pemerintah provinsi dan Kabupaten Sumedang,” kata Dony, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, kirab Mahkota Binokasih tidak hanya sekadar seremoni, tetapi memiliki makna historis yang kuat. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk mengenang kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Jawa Barat, seperti Kerajaan Padjadjaran dan Kerajaan Sumedang Larang.
“Ini menjadi sebuah nilai bahwa di Jawa Barat ada Kerajaan Padjadjaran dan di Sumedang ada Kerajaan Sumedang Larang,” katanya.
Mahkota Binokasih sendiri saat ini tersimpan di Keraton Sumedang Larang dan menjadi simbol kebesaran serta warisan berharga dari masa lalu. Secara filosofis, nama ‘Binokasih’ memiliki arti ‘Sumber Kasih Sayang’, yang mencerminkan nilai luhur dalam kehidupan masyarakat Sunda.
Lebih jauh, Bupati menegaskan bahwa kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana edukasi sejarah bagi masyarakat. Ia berharap, pemahaman terhadap perjalanan masa lalu dapat menjadi refleksi sekaligus pedoman dalam menentukan arah masa depan.
“Peringatan hari jadi tidak semata seremoni, tetapi menjadi cermin sejarah yang dapat dijadikan kompas untuk melangkah ke depan,” pungkasnya. (**)







