BeritaHeadlineJawa BaratNasionalSumedang

Ibu dan Bayi Meninggal di RSUD Sumedang, Keluarga Korban Menduga Akibat Lambatnya Penanganan Medis

JURNAL SUMA.COM., SUMEDANG – Seorang ibu hamil warga Desa Buana Mekar, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, meninggal dunia saat hendak menjalani persalinan di Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) Sumedang, Minggu (1/10/2022) kemarin.

Korban diketahui bernama, Mamay Maida (29) yang merupakan seorang Guru PNS di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Cibugeul. Keluarga pasien menduga, korban meninggal dunia bersama anak yang sedang dikandungnya itu, akibat lambatnya penanganan tim medis di RSUD Sumedang.

Bayi yang masih berada di dalam kandungannya itu merupakan anak keduanya, setelah sebelumnya telah dikaruniai seorang anak perempuan yang kini baru berusia 5 tahun.

Menurut pengakuan suami Korban, Ardiansyah Apandi (30) menceritakan kronologis awal terkait istrinya yang meninggal dunia saat proses persalinan di RSUD Sumedang.

Ibu dan Bayi Meninggal di RSUD Sumedang, JurnalSuma

“Awalnya pada Sabtu (30/9/2023) sekitar jam 8.00 pagi, saya dan istri pergi ke Puskesmas Cibugel mau cek kandungan karena kebetulan sudah lewat hari perkiraan lahiran,” kata Ardiansyah, Selasa (3/10/2023).

Ardiansyah menuturkan, pihak Puskesmas kemudian menyarankan agar istrinya diperiksakan ke dokter kandungan terlebih dahulu. Ia pun bersama istrinya pergi melakukan pemeriksaan ke salah satu dokter di daerah Ganeas.

“Kata dokter Dani di daerah Ganeas ini, mau empat hari apa sekarang dirujuknya?, kata saya yang terbaik saja karena istri saya saat lahiran anak pertama juga sulit keluar waktu di rumah sakit. Sekarang kondisinya sama seperti anak saya yang pertama sudah lewat hari,” tuturnya.

Kemudian istri Ardiansyah dirujuk ke RSUD Sumedang, dan masuk ke ruangan IGD di RSUD Sumedang. Saat itu, bidan memberikan penjelasan kepadanya bahwa istrinya harus diinduksi. Saat itu pun Ardiansyah meminta kepada bidan agar segera melakukan tindakan darurat jika setelah diinduksi tidak ada reaksi atau sang bayi tidak kunjung keluar dari rahim sang ibu.

“Saya pun menegaskan kepada bidan saat itu, kalau semisal 10 jam setelah diinduksi bayinya tidak kunjung keluar, mohon tindakan yang terbaik. Mau caesar atau vakum yang penting selamat dua-duanya, soalnya saya trauma kejadian anak pertama saya,” terangnya.

Namun setelah 13 jam, kata Ardiansyah, istrinya mulai merasakan sakit-sakitan serta mengaku tidak tahan. Namun, ia pun merasa kesal lantaran istrinya saat itu akan diberi dikasih obat induksi kembali. Padahal obat tersebut sudah yang keempat kalinya.

Ibu dan Bayi Meninggal di RSUD Sumedang, JurnalSuma

“Kata saya, jangan dikasih-kasih obat induksi terus, sudah lakukan tindakan saja mau caesar atau bagaimana, yang penting ada yang selamat. Soalnya jam 11 itu, kepala bayi itu sudah kelihatan cuma masuk lagi ke dalam,” ungkapnya.

Melihat istrinya mengalami penurunan kesadaran, lalu Ardiansyah pun meminta petugas rumah sakit segera mengambil tindakan operasi sesar atau vakum. Namun permintaan tersebut ditolak hingga akhirnya sang istri dinyatakan meninggal dunia bersama anaknya yang masih berada di dalam kandungannya pada Minggu 1 Oktober 2023.

“Iya karena kondisi istri saya sudah lemas. Kata bidan?, engga pak insa Allah bayinya sehat, tanpa melihat keadaan istri saya kondisinya gimana. Dia bilang, dokter itu masih ada operasi dua sama lagi istirahat makan, menurut saya, respon bidan itu kurang ajar, bukan ke bidannya tapi ke sipatnya. Soalnya nyoo hape (mainin hp), dengarin musik, leha-leha (santai-santai), banyak pasien berteriak dibiarkan, apakah harus mati dulu kemudian masuk meja operasi. Ini kejadiannya bukan menimpa keluarga saya saja, tapi banyak yang pernah ngalamin karena tingkah laku, dan tindakan yang kurang manusiawi dari rumah sakit Sumedang,” ucapnya.

Kemudian jenazah istrinya pun saat itu diminta untuk segera dibawa pulang dengan alasan lantaran mobil ambulans akan segera digunakan. Bahkan Ardiansyah diharuskan membayar ongkos ambulans sebesar Rp 635.000.

Atas kejadian itu, ia pun berencana akan membawa kasus meninggal istrinya itu ke ranah hukum. Hal itu dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang kembali khususnya di daerah Sumedang. Cukup dirinya yang merasakan kepahitan kehilangan.

“Iya langkah saya kedepannya kalau misalkan saya kasih dari sekarang somasi dua hari dokter bidan tidak ada itikad baik, saya akan mau ke ranah hukum aja karena ini keteledoran pihak rumah sakit,” ujarnya.

Ardiansyah pun mengaku bahwa dari pihak dari RSUD Sumedang yang langsung diwakili direkturnya itu telah berkunjung ke rumahnya pada Senin 2 Oktober 2023. Ia juga berharap, bukan direktur RSUD Sumedang yang minta maaf, namun dokternya yang harus datang untuk meminta maaf.

“Kalau kemarin Alhamdulilah dari direkturnya sama Hums RSUD Sumedang ada ke rumah meminta maaf. Tapi bukan hanya minta maaf saya mah ingin rumah sakit Sumedang ini berbenah (diperebaiki pelayanannya) jangan sampaikan ada lagi kejadian seperti kaya gini, kasian kepada orang yang tidak mampu,” harapnnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
PETIR800 LOGIN PETIR800