Beranda / Sumedang Majalengka / Sumedang / Pemkab Sumedang Gerak Cepat Tangani Longsor di Tanjungsari

Pemkab Sumedang Gerak Cepat Tangani Longsor di Tanjungsari

Pemkab Sumedang Gerak Cepat Tangani Longsor di Tanjungsari

JURNAL SUMA.COM., SUMEDANG – Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, bergerak cepat menindaklanjuti laporan terjadinya bencana longsor di Desa Kadakajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Berdasarkan hasil peninjauan, penyebab longsor dipicu akibat oleh saluran gorong-gorong pembuang air di pinggir jalan yang tertutup bangunan rumah warga. Akibatnya, air tidak dapat mengalir sebagaimana mestinya.

Air yang tertahan kemudian meluap ke gang dan mengalir bebas tanpa arah mengikuti sepanjang jalan. Kondisi tersebut memicu terjadinya longsor di beberapa titik di bahu jalan.

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan bahwa pihaknya sedang menyusun skema penanganan jalan longsor di Desa Kadakajaya Tanjungsari. Ia pun telah menurunkan petugas BPDB dan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR).

“Saya sudah menurunkan BPBD, Dinas PU, segera akan kami tangani. Sekarang sedang disusun skemanya, karena secara administrasif harus memenuhi ketentuan tentang penganggaran, apakah bisa dengan URC (Unit Reaksi Cepat) atau Anggaran Tidak Terduga, sedang dikaji dulu secara prosedur mekanisme hukumnya,” kata Dony, Kamis (21/8/2025).

Bupati juga menyampaikan bahwa jalan Gudang-Cijambu merupakan salah satu infrastruktur jalan yang pertama dibangun pada era kepemimpinannya di periode pertama.

“Sebenarnya jalan itu paling awal kami bangun sejak periode pertama (pemerintah), dari Desa Gudang sampai Cijambu. Di situ memang rawan longsor, ada yang terkikis, tapi akan segera kami tangani,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, kondisi ruas jalan Kabupaten di Dusun Cijambu, Desa Kadakajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, semakin parah tergerus longsor. Longsor yang menyisakan setengah badan jalan, mengakibatkan banyak pengguna kendaraan yang menjadi korban kecelakaan.

Jalan tersebut, merupakan jalur utama bagi warga dan petani. Warga pun berinisiatif memasang water barier serta batang bambu dipasang sebagai pembatas jalan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *