JURNAL SUMA.COM., SUMEDANG – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syaharul Yasin Limpo mengunjungi kandang sapi yang terjangkit Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Dusun Cikeuyeup, Desa Cilayung, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang Jawa Barat, Rabu (18/5/2022).
Pantauan di lapangan, rombongan Menteri bersama Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir dan tim Dokter hewan, meninjau langsung kondisi kandang sapi tempat ditemukannya kasus PMK dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) Lengkap. Di kandang sapi tersebut, terdapat dua ekor sapi terkonfirmasi positif PMK dan 11 diantaranya mengalami sakit.
Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syaharul Yasin Limpo mengatakan, kasus PMK sudah ditemukan di 48 Kota/Kabupaten di 16 Provinsi. Meski penyebarannya terus meluas, namun masyarakat diimbau tidak panik karena PMK tidak menular ke manuasia dan tingkat kematiannya sangat kecil.
“Kami semua lebih khusus lagi ke Dirjen peternakan telah bergerak untuk mengatisipasi berbagai perkembangan dari suspek PMK. Dari 48 Kabupaten yang kena di seluruh Indonesia dalam 16 Provinsi yang ada. Saya sampaikan bahwa PMK itu ada tapi proses penyembuhannya sangat maksimal, artinya tingkat kematian sangat sedikit,” kata Syaharul.

Menteri menuturkan, penyakit mulut dan kuku ini dapat disembubkan dengan cara pemberian obat-obatan, medis dan juga herbal. Di Sumedang sendiri hingga saat ini ditemukan 11 kasus PMK di Desa Cilayung Jatinangor. Adanya kasus PMK, para peternak dan penjual sapi untuk sementara tidak melakukan transaksi jual beli.
“Proses yang jalan pengobtannya antara lain bahwa dengan intervensi obat-obatan, vitamin, antibiotik dan obat-obatan lain termasuk herbal yang dipake masing-masing daerah, itu kearipan lokal,” tuturnya.
Mentan mengintruksikan para kepala daerah yang terdapat kasus PMK melakukan protap, agar penyebarannya tidak meluas. Selain itu, Menteri juga memastikan masyarakat dapat mengkonsumsi daging hewan yang positif PMK asalkan diolah dengan benar.
“Tentu melalui sebuah proses yang sudah diterapkan, yang tidak boleh dimakan yang sudah terkena PMK yaitu jeroannya dan sekitar mulut atau kepala, tapi proses-prosesnya akan dilakukan oleh pusat kesehatan hewan,” ucapnya.
Sementara itu salah seorang peternak sapi, Jajang Nurzaman (34) mengatakan, hewan ternaknya yang telah terjangkit wabah PMK, dari 21 ekor sapi ada 11 yang mengalami sakit dengan suspek PMK.
“Iya hasil lab ada dua sapi yang positif PMK, 9 lainnya juga mengalami sakit yang sama dengan dua sapi yang sudah dinyatakan positif,” kata Jajang.
Jajang menuturkan, dirinya membeli sapi tersebut dari peternak asal Purwakarta. Sapi yang dipeliharanya terkena PMK awalnya memiliki gejala mengekuarkan busa di mulut dan tidak mau makan. Kasusnya sama dengan seperti sapi yang terkena demam. Ia berharap sapi yang di ternaknya bisa kembali sehat.
“Sebelumnya saya beli sapi ini dari Purwakarta, tapi kata yang dari Purwakarta sapinya ini dibeli dari Situbondo. Dengan adanya wabah ini, saya sudah menghentikan jual beli sapi untuk sementara. Harapannya, sapi-sapi saya bisa kembali sehat, wabah segera pergi, karena biasanya menjelang Idul Adha ini, transaksi jual beli sapi sangat tinggi,” ucapnya.






