JURNAL SUMA.COM., SUMEDANG – Dampak musim kemarau, membuat debit air Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang Jawa Barat menyusut, Minggu (24/9/2023). Salah satunya di kawasan Desa Pakualam, dan kawasan pesisir Cibungur.
Meski demikian, surutnya permukaan air waduk Jatigede dimanfaatkan sejumlah warga untuk mencari keong sawah, serta bercocok tanam di area lahan pesisir waduk Jatigede yang masuk area genangan.
Salah seorang warga yang juga pencari keong sawah, Agus (52) mengatakan, surutnya air Waduk Jatigede sudah berlangsung selama empat bulan atau sejak musim kemarau melanda. Penyusutan genangan air Waduk Jatigede tahun ini menjadi salah satu yang terparah dari sejak 8 tahun terakhir.

“Air waduk mulai surut dari bulan Juni (2023), sudah 4 bulanan. Dua tahun kebelakang surutnya tidak seperti ini, kalau sekarang cukup parah,” kata Agus.
Agus menuturkan, surutnya air Waduk Jatigede membawa berkah tersendiri bagi dirinya serta warga yang lain. Sebab, saat musim kemarau seperti ini, ia bisa memanfaatkannya mencari keong sawah serta bercocok tanam di area lahan pesisir waduk Jatigede.
“Kalau musim kemarau seperti ini, saya biasa bercocok tanam dan cari tutut (keong sawah) di pesisir waduk. Dan saya tanam ubi, singkong, jagung, dan tanaman lainnya,” ucapnya.

Dalam satu hari, Agus mampu mengumpulkan 1 kwintal keong sawah, yang kemudian dijual kepada tengkulak atau warga lainnya seharga Rp 4.000 rupiah per kilogram.
“Biasanya dijual ada Rp 4 ribu atau Rp 2 ribu perkilogram,” katanya.
Sementara itu salah satu pembeli keong sawah, Yana mengaku sengaja datang ke kawasan Jatigede untuk membeli keong sawah. Sebelumnya, ia sempat membuka usaha frozen, namun usahanya itu terhenti dan mencoba berjualan keong sawah.
“Saya sebelum berjualan keong sawah dulunya membuka usaha frozen, namun sekarang lagi turun drastis, jadi saya mencoba usaha baru membeli tutut ke sini (Jatigede) untuk dijual lagi,” kata Yana.
Diketahui, hingga Sabtu 23 September 2023, elevasi permukaan air waduk Jatigede berada di ketinggian 243 MDPL, dimana elevasi normalnya berada pada ketinggian 262 MDPL.
Hingga akhir bulan September ini belum ada tanda-tanda akhir elevasi air waduk Jarigede kembali normal, diperkirakan kondisi ini akan terjadi hingga musim kemarau berakhir.







