
JURNALSUMA.COM.,SUMEDANG – Menanggapi adanya penutupan akses jalan proyek Tol Cisumdawu Seksi 5A di Desa Conggeang Kulon Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang Jawa Barat, oleh pemilik lahan yang belum dibayar, PT. Adhi Karya selaku pelaksana, mengaku tidak terlalu mengganggu pada proses pembangunan.
“Pada dasarnya, dengan adanya penutupan akses jalan itu, tidak terlalu terganggu. Sebab, kami ada akses lain untuk menghindari penutupan akses tersebut,” kata Humas PT. Adhi Karya, Dede Junaedi, Selasa (5/10/2021).
Akses yang ditutup warga, kata Dede, bukan merupakan akses utama. Namun, merupakan jalan untuk mengangkut material dan beroperasinya alat berat.
“Ada jalan memutar sedikit. Hanya memang, akses yang ditutup itu kondisinya sudah enak, tanahnya sudah padat,” ujarnya.
Dede mengakui, sebelum dilakukan, warga pemilik lahan sudah memberitahukan bakal melakukan penutupan akses jalan proyek.
“Pemilik lahan juga sudah berdiskusi dulu dengan kami, ya kami mengizinkan, karena memang tanah itu belum dibayar,” ungkapnya.
Dede menegaskan, pihaknya tidak akan melakukan pembangunan di atas tanah yang belum dibayar pihak terkait. Oleh karena itu, pihaknya berharap masalah tersebut segera selesai, agar tidak menjadi kendala proses pembangunan.
“Kami juga tidak akan berani mengerjakan kalau tanahnya belum dibebaskan,” ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, warga pemilik lahan terdampak pembangunan Jalan Tol Cisumdawu yang belum dibayar menutup akses proyek tol di Desa Conggeang Kulon Kecamatan Conggeang. Keluarga pemilik lahan mengancam penutupan akan dilakukan, sampai hak mereka dibayarkan.
Salah seorang keluarga pemilik lahan, Ence Tatang menuturkan, aksi itu dilakukan lantaran lahan seluas 200 bata milik kelurganya sampai saat ini belum dibayar.
“Lahan kami merupakan area pesawahan. Kalau secara umum ini kelas 1, dalam satu tahun bisa 3 kali panen,” ujarnya, Selasa (5/10).
Penutupan akses sudah dilakukan sejak Minggu (3/10) pagi. Menurut Ence, keluarganya sempat dijanjikan akan dibayar pada Juli 2021 lalu. Sehingga, pemilik lahan saat itu mengizinkan sebagian lahannya yang terkena dampak pembangunan tol digunakan untuk akses proyek.
Namun hingga saat ini mereka belum dibayar. Selain itu sawah mereka juga tidak bisa digarap karena terputusnya saluran irigasi.
“Karena ini kan sudah 3 bulan kami menunggu kepastian, sedangkan dari sisi apapun kami rugi, dari segi finansial, psikologis. Karena akses ini sudah tidak bisa diolah lagi,” ucapnya.
Atas dasar itu, lanjut Ence, pemilik lahan melakukan penutupan akses jalan proyek tol. Ia berharap pembayaran lahan cepat dilunasi dan diselesaikan. Jika tidak, mereka akan tetap menutup akses jalan proyek.
“Sebelum ada pembayaran (akan ditutup), karena ini kan sudah 3 bulan. Kami memberikan toleransi tidak ada apa-apa. Sementara uang sewa yang ditawarkan hanya Rp 500 ribu, buat apa,” katanya.
Penutupan akses jalan ini, kata Ence, sudah didiskusikan dulu dengan PT. Adhi Karya, selaku pelaksana pembangunan Tol Cisumdawu Seksi 5A.






