JURNAL SUMA.COM., MAJALENGKA – Kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang terjadi saat ini, berdampak pada menurunnya penjualan hewan qurban. Para peternak mengaku mengalami penurunan penjualan hingga mencapai 50 persen lebih. Seperti yang dialami oleh peternak sapi di Blok Karapyak, Desa Jatipamor, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Menurut peternak sapi, Abdul Aziz, penjualan sapi jelang hari raya Idul Adha tahun ini, mengalami penurunan hampir 50 sampai 80 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini terjadi sejak terjadinya wabah PMK yang menyerang hewan ternak.

“Karena konsumen takut membeli sapi kita, takut sapi yang sudah dibeli tiba-tiba terjangkit,” kata Abdul, Rabu (29/6/2022).

Sebelumnya, kata Abdul, 30 ekor sapi miliknya pernah terjangkit wabah PMK, dimana 5 ekor diantaranya terpaksa harus dipotong di kandang yang saat itu bobot perekornya mencapai 6 kwintal sampai 1 ton. Namun sekarang semua sapinya sudah dinyatakan sembuh.

“Sekarang sudah mau lebaran Idul Adha baru 3 ekor yang terjual, kalau tahun kemarin masa Qurban bisa menjual sampai 45 ekor,” ucapnya.

Sementara itu Camat Panyingkiran, Rizki Ginanjar Satria Graha mengatakan, mayoritas sapi-sapi asal Jatipamor dipasarkan ke wilayah 3 Cirebon dan Jabodetabek. Namun, sejak adanya wabah PMK penjualan menjadi tersendat karena dari Pemerintah.

“Tentunya dengan kondisi ini kami selaku Pemerintah Daerah ikut prihatin, dan kami terus berupaya untuk menghentikan wabah ini salah satunya dengan vaksin,” kata Rizki.

Selanjutnya, upaya sosialisasi juga akan dilakukan pemerintah daerah dengan menyampaikan informasi kepada masyarakat, bahwa hewan-hewan ternak khususnya sapi yang ada di wilayahnya dalam kondisi sehat dan aman untuk diqurbankan.

“Kami berencana akan mensosialisasikan dan juga mengimbau khusunya kepada masyarakat yang akan berqurban untuk membeli sapi lokal agar membantu para peternak disini,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here