JURNALSUMA.COM.,SUMEDANG – Merangkaknya harga minyak goreng, kian dikeluhkan pengusaha tahu di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat. Kondisi ini, mengakibatkan omzet semakin turun.

Seperti diakui Dimar, pelaku usaha tahu di jalur kawasan wisata Citengah Kecamatan Sumedang Selatan. Kenaikan harga minyak goreng, sudah dirasakan sejak dua minggu terakhir.

“Kenaikan harga minyak goreng sangat terasa dampaknya ke semua pedagang, untuk omzet sangat tipis,” kata Dimar, Kamis (28/10/2021).

Naiknya harga minyak goreng, diakui Dimar, membuat pelaku usaha Tahu Sumedang kian terpuruk. Apalagi sejak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali, kondisi masih belum normal.

“Apalagi kemarin harga kedelai naik signifikan sekali. Sekarang minyak goreng malah naik juga. Terus terang, kami pelaku usaha belum bisa bangkit sejak PPKM,” tuturnya.

Dimar menggambarkan, saat ini harga minyak goreng mencapai Rp.18.000 per liter. Padahal harga normalnya, berada dikisaran Rp.14.000 per liter. Dalam sehari, dirinya bisa menghabiskan sampai 30 liter minyak untuk menggoreng tahu.

“Sejak PPKM sampai sekarang masih sepi pembeli. Sekarang juga ramainya Sabtu Minggu saja. Penjualan juga sekarang dikurangi karena pembelinya sepi,” ungkapnya.

Guna menyiasati agar tidak mengalami kerugian, dirinya memperkecil ukuran tahu.

“Harga tetap Rp.600 (per biji). Kalau naik takutnya kehilangan pelanggan,” katanya.

Dirinya mengaku tidak tahu pasti penyebab harga minyak terus melambung. Namun sepengetahuannya, harga minyak naik jika dolar juga naik.
Atas kondisi ini, dirinya berharap pemerintah mengambil langkah agar kondisi tidak semakin buruk dan merugikan pelaku usaha.

“Harapan pedagang semoga kembali normal, dan untuk pemerintah harap diperhatikan,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here