JURNALSUMA.COM.,SUMEDANG – Puluhan tenaga teknis honorer sekolah di Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat, melakukan audensi dengan pengurus PGRI di Gedung KGS, Jumat (22/10/2021) sore.

Mereka menuntut perbaikan status dan kesejahteraan, yang hingga kini belum diperoleh layaknya para guru honorer. Termasuk insentif yang diberikan, dapat setara dengan Upah Minimum Regional (UMR).

Salah seorang perwakilan tenaga teknis honorer, Iman Risman mengatakan, dirinya yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai tenaga teknis honorer di sekolah. Hingga saat ini, belum pernah mendapat kesempatan ikut sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K).

“Jujur, saat ini adalah puncak-puncak kekesalan dari rekan-rekan tenaga teknis dinas pendidikan. Dari puluhan tahun, belum pernah pemerintah daerah mengakomodir baik itu formasi maupun kesejahteraan,” kata Iman.

Pihaknya mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah terhadap tenaga teknis, yang sudah mengabdi puluhan tahun. Selama ini, insentif yang diterima, sangat minim sekitar Rp.200 ribu hingga Rp.500 ribu perbulan.

“Tenaga-tenaga teknis itu ada, dan mereka juga manusia, butuh kesejahteraan, buruh perhatian yang memang puluhan tahun tidak terakomodir,” ucap Iman.

Selanjutnya, Iman menyampaikan, besar harapan, tuntutan mereka dapat direalisasikan terkait status dan kesejahteraan, yang memang selama ini belum didapatkan.

“Saya dan rekan-rekan ingin diperhatikan, baik dari pengadaan Formasi 2022 atau pun insentif yang selama ini kita terima, minimal diatas atau standar UMR,” ungkap Iman.

Sementara itu, Sekertaris Bidang Ketenagakerjaan PGRI Sumedang, Nanang Supriatna mengungkapkan, pihaknya akan terus berupaya untuk membantu mewujudkan tuntutan para tenaga teknis, yang tidak sedikit diantaranya sudah berusia lanjut.

“PGRI siap mendukung siap mengawal dan mendampingi apa yang dituntut oleh tenaga teknis supaya ini terwujud keadilan benar-benar ditegakan,” kata Nanang.

Setidaknya ada penghargaan kepada mereka yang sudah puluhan tahun mengabdi dengan status maupun kesejahteraan berupa kenaikan nilai insentif yang mereka terima.

“Bahwa tenaga teknispun adalah manusia maka layaknya harus dimanusiakan,artinya kesempatan formasi, kesempatan untuk karier harus sama dengan tenaga guru yang pada hari ini ada P3K.Nah kenapa tidak untuk tenaga teknispun ada P3Knya,” ujar Nanang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here