JURNALSUMA.COM.,SUMEDANG – Pertahankan tradisi nenek moyang. Kriya kerajinan Dusun Pangaroan, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Meskipun ditengah pandemi seperti saat ini, para pengrajin terus memproduksi berbagai macam kerajinan tangan berbahan dasar bambu untuk mempertahankan tradisi yang diwariskan nenek moyang. Bahkan mereka mengaku kebanjiran order untuk memenuhi permintaan konsumen.

Ketua kelompok pengrajin, Ahmad Dahlan mengatakan,anyaman berbahan dasar bambu yang dikerjakan kelompoknya saat ini berupa besek yang masih banyak digunakan oleh sebagian masyarakat dikalangan menengah kebawah.

“Anyaman yang dikerjakan saat ini berupa besek atau pipiti yang masih banyak digunakan masyarakat menengah kebawah katanya awet dan harganya terjangkau,” kata Ahmad kepada Jurnalsuma, Rabu (17/2/2021).

Dalam sehari pengrajin bisa membuat sekitar 20 buah besek dengan ukuran 20 sentimeter dengan kisaran harga sekitar Rp. 3.500 tergantung dari ukuran dan kualitas barang.

Sementara itu koordinator para pengrajin anyaman Saung Geulis, Cici, pandemi tidak terlalu berpengaruh kepada produksi, justru pengrajin kebanjiran order. Meski demikian, mereka tetap memperhatikan protokol kesehatan selama menjalankan aktifitas pembuatan kerajinan tersebut uang dilakukan secara berkelompok.

“Mereka tetap menyelesaikan pekerjaannya selalu mendahulukan prokes dalam kegiatannya apalagi dilakukan secara kelompok,” kata Cici.

Lebih lanjut Cici berharap, dimasa pandemi seperti saat ini tidak ada kejadian apapun bagi para pengrajin dan usahanya. Sebab saat hampir semua usaha masyarakat terhenti karena pandemi, usahanya masih bisa berjalan dan bisa menjadi mata pencaharian bagi para pengrajin.

“Semoga pemerintah Daetah bisa lebih memperhatikan lagi usaha usaha yang ada di masyarakat. Apalagi ini usahanya berjenis kerajinan tangan yang menggunakan bahan dari alam,” ucap Cici.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here