JURNALSUMA.COM.,SUMEDANG – Akibat diterpa angin kencang, atap gedung utama pusat kegiatan kebudayaan dan kesenian sunda, Geo Theater di Pasirsalam, Desa Sukamaju, Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat ambruk, Selasa (8/12/2020) malam.

Pantauan Jurnalsuma.com, kerusakan terlihat di atap gedung sekitar 80 persen. Petugas kepolisian dari Polsek Rancakalong, Polres Sumedang memasang garis polisi guna mencegah warga mendekati bangunan yang ambruk, karena berpotensi membahayakan. Terpantau, Tim Inafis Polres Sumedang mendatangi lokasi, dan membawa sejumlah material bangunan yang ambruk.

Salah seorang warga yang juga pengelola Geo Teater, Kokon (46) menuturkan, atap gedung ambruk saat terjadi angin kencang, sekitar pukul 19.07 WIB. Saat kejadian, kata Kokon, dirinya sedang akan mematikan aliran listrik gedung tersebut. Ia mengaku beruntung reruntuhan atap tidak sampai menimpanya.

“Ambruknya langsung sekaligus, karena saat itu anginnya sangat dahsyat sekali,” ucapnya di lokasi kejadian, Rabu (9/12/2020).

Kokon menuturkan, beruntung tak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Pasalnya, setiap sore hari banyak orang yang berkunjung ke lokasi tersebut, untuk sekedar berswafoto.

“Kalau kejadiannya sore mungkin sudah ada korban, ini juga sudah gedung sudah dipakai kegiatan, suka ada yang senam setiap minggu,” ungkapnya.

Sementara itu, Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (Perkimtan) Kabupaten Sumedang, selaku pengelola pembangunan Geo Teater, akan melakukan kajian terkait ambruknya atap bangunan Geo Teater tersebut.

Kepala Dinas Perkimtan Kabupaten Sumedang, Gungun Ahmad Nugraha mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu hasil kajian dari tim konsultan perencanaan Geo Theater tersebut.

“Konsultan perencanaannya tadi pagi-pagi sudah kesini. Jadi mereka punya hak cipta untuk membangun ini, dan mereka juga harus mengkaji sendiri terkait robohnya atap bangunan Geo theater ini,” kata Gungun, saat ditemui di lokasi.

Menurutnya pengerjaan gedung Geo Theater ini sudah sesuai dengan spesifikasi dan juga diawasi oleh konsultan pengawas. Terkait ambruknya atap gedung, kata Kadis, disebabkan karena angin kencang.

“Jadi menurut saya, robohnya atap bangunan ini murni oleh angin yang kencang. Dan kami sudah koordinasi dengan BPBD Kabupaten Sumedang, dari segi kebencanaannya,” ucapnya.

Gungun menuturkan, bangunan utama Geo Teater ini dibangun pada tahun 2019 lalu, dengan anggaran Rp 3,9 Miliar yang bersumber dari Bantuan Provinsi Jawa barat.
“Sudah sejak 2019, sudah diresmikan, jadi sudah digunakan sejak satu tahun ini,” katanya.

Kata Gungun, karena ambruk, kemungkinan bangun tersebut akan dilakukan renovasi, namun tetap menunggu hasil kajian konsultan.
“Renovasi atau apapun namanya itu nanti setelah kajian konsultan,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here