JURNALSUMA.COM.,SUMEDANG – Nasib miris dialami Dede Nano Hendarso (41), guru Pendidikan Agama Islam SDN Corenda Kecamatan Cisitu. Sudah dua bulan ini Dede harus mengajar dengan metode home visit, lantaran HP-nya rusak. Padahal, Dede harus mengajar dari Senin sampai Sabtu, dimana per harinya Dede bisa mengajar hingga tiga kelompok.

“Sudah dua bulan HP saya rusak, kemarin baru selesai diperbaiki, tapi sekarang tidak bisa belajar daring karena tidak bisa beli kuota,” kata Dede, Selasa (6/10/2020).

Dede sendiri sudah menjadi guru honorer sejak 1 Januari 2005, namun hingga kini belum diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Dede juga pernah ikut seleksi CPNS empat kali, namun selalu gagal.

“Kebanyakan file di HP, dari kelas 1 sampai kelas 6, terus HP-nya tersenggol, jatuh sampai pecah,” ungkapnya.

Meski sudah mengabdi selama 16 tahun, namun honor yang diterima Dede dari sekolah hanya Rp 200 ribu per bulan, sedangkan kalau honor dari Pemerintah Daerah Rp 600 ribu, itu pun dibayar 3 bulan sekali. Beban kerja yang dilakukannya tentu tak sebanding dengan upah yang didapat.
“Dari tahun ke tahun saya menanti jadi PNS, tapi kenyataannya cuma mimpi, ikut program sertifikasi juga selalu gagal,” ujarnya sambil mengusap air mata.

Meski dengan banyak keterbatasan, Ia mengaku masih tetap semangat dalam mengajar anak didiknya.
“Dari pada anak-anak yang jadi korban lebih baik saya yang berkorban, meskipun terkadang lelah,” ucapnya.

Masih sambil menangis, Dede mengatakan berharap segera ada perhatian dari pihak terkait, agar nasibnya lebih baik.
“Mohon maaf ya Bapak Bupati, bagaimana nasib saya selanjutnya,” kata Dede.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here